Komunikasi perlu ilmu! Semisal ada kasus, anak dijahili/ dibully temannya. Sebagai orang tua, rasa ingin tahu dan rasa ingin membela begitu tinggi. Namun, tidak semua orang tua mampu membuka jalan pembuka untuk bisa berkomunikasi dengan anak. Komunikasi terasa kaku. Anak tidak nyaman. Pun dengan orang tua. Terjadilah komunikasi semu.
Apiida
Membentuk keluarga dengan kualitas A itu perlu step by step. Di AHT sesi ke 3 dan 4, kami lebih banyak diajarkan untuk bisa menata komunikasi dalam keluarga. Yups, komunikasi itu penting! Komunikasi layaknya kunci dalam mengeratkan hubungan di antara anggota keluarga.

Yah, komunikasi antara orang tua dan anak ataupun antara suami dan istri perlu dua arah. Saling memberikan feedback. Serta memiliki sesuatu yang berarti di dalamnya. Komunikasi itu jembatan penghubung. Memberi manfaat untuk kedua belah pihak. Sudahkah komunikasi dalam keluarga kita seperti itu?
Refleksi dalam Keluarga
Dalam hal ini kami saling sharing satu dengan yang lain. Berkaca pada keluarga lain, selalu ada poin kelebihan dan kekurangan yang bisa diambil hikmahnya. Tidak ada keluarga yang sempurna. Namun, tetap ada keluarga yang ingin menuju versi terbaik, keluarga dengan kualitas A.
Kondisi keluarga ternyata memang berpengaruh pada pola komunikasi, pengasuhan, ataukah visi-misi keluarga. Diamati secara keseluruhan, dalam keluarga saya, tujuan yang ada masih bisa dikatakan mengambang. Tujuan kami rumuskan ketika awal pernikahan. Kami membentuk keluarga Lillahitaala. Tujuan kami surga. Bismillah! Namun, dalam pelaksanaannya masih banyak yang kurang terencana.
Dalam hal komunikasi lebih banyak bersifat koordinasi. Sebagai pejuang LDM, komunikasi kunci kami dalam mengikat hati. Saya sebagai pengayom rumah seringkali mengkomunikasikan kegiatan kami di rumah. Baik sesuatu yang berkesan, sekadar kejadian ringan ataukah tantangan dan halangan. Pun dengan suami bercerita tentang dunia kerja.
Berhubungan dengan perkembangan anak, suami lebih banyak menyerahkan keputusan kepada saya. Suami mendukung segala kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan diri. Namun, karena didapuk sebagai nahkoda, saya seringkali limbung. Butuh penguatan dan teman diskusi. Jadilah AHT ini salah satunya.
Di keluarga, kepemimpinan tetap dipegang suami. Segala keputusan ada padanya. Namun, dalam segala sesuatu pendapat saya memiliki prioritas. Pun dalam melangkah, suami selalu meminta pendapat. Entah dipakai atau tidak selalu ada diskusi di antara kami.
Dalam keseharian, penerapan nilai bisa dikatakan fleksibel. Dalam hal yang bersifat krusial seperti prinsip kesederhanaan menjadi sesuatu yang muthlak. Apalagi dengan kehadiran anak sulung kami yang ADHD, penerapan nilai ini memerlukan modifikasi. Di mana kami seringkali mendapati error experimental. Namun, dari semua itu selalu ada sesuatu yang bisa diambil hikmahnya.
Nah, PR yang masih kami perlu biasakan tentu bagaimana menentukan strategi dalam menanggapi atau menghadapi sesuatu. Bila biasanya mengalir seperti air. Kini kami harus lebih terarah dan tertata. Memberi contoh pada anak tidak hanya sebatas ucap. Perlu tindakan dan pertimbangan yang bisa mereka tiru dan amati.
Berkaca dari semua aspek itu, keluarga kami masih perlu berbenah dalam setiap sudutnya. Memang tidak bisa serentak, setidaknya kami memulai dengan membuka percakapan dan diskusi secara rutin dan terarah.
Refleksi 2: Konfirmasi Vs Asumsi
Dalam membangun komunikasi, sebagai ibu saya harus lebih percaya diri. Tahu ke mana arah pembicaraan. Pun dari komunikasi yang dijalin, jelas output yang diinginkan. Sayangnya, semua ini seringkali terlupa. Saya lebih sering berbicara. Asal nyeplos. Istilah anak-anak, cerewet!
Komunikasi tidak hanya dengan orang lain. Hal yang paling saya suka ketika ikut training AHT, saya kembali disentil untuk bisa berbicara dengan diri sendiri. Selama ini, saya seringkali mengesampingkan kebutuhan diri. Yang penting orang terdekat puas. Nyatanya, semua itu justru membuat saya terpuruk.
Jadilah praktik berdamai dengan diri sendiri ini sangat menarik dan dinanti. Di AHT yang memiliki slogan ngobrol bareng, main bareng, dan beraktivitas bareng, nyatanya main bukan hanya untuk anak-anak, orang tua pun juga butuh. Cara ini bisa mencairkan suasana. Nah, sebelum mempraktikkan ke orang lain. Saya terlebih dulu mencoba jujur dan berbicara ke diri sendiri. Melalui selembar kertas saya menulis apa yang ingin saya ketahui hari ini.

Hei, kamu! Bagaimana perasaanmu hari ini? Perasaan saya tidak baik-baik saja. Khawatir sekaligus pusing. Harga gas melonjak. Ya kalau ada, berapa pun akan saya beli. Sayangnya, sampai tabung gas kosong saya belum dapat penggantinya. Alhasil, harus berpindah ke pink. Bayangan lonjakan angka belanja bulanan sudah terpampang di depan mata.
Hei kamu! Apa yang membuatmu bangga pada diri sendiri? Bisa menjalani peran IRT dengan dua bocil di rumah. Selain sebagai pembuktian pada mertua yang menjadi penentang keputusan di awal pernikahan. Saya juga bisa terus upgrade diri. Dari rumah pun saya bisa melakukan banyak aktivitas, salah satunya berolahraga ataukah menulis.
Hei, kamu! Apa yang membuatmu lemah dan merasa rendah diri? Ketika tidak bisa menghasilkan apa pun. Baik tulisan, berbuat baik, ataukah menciptakan kondisi yang nyaman di rumah. Segala sesuatu yang tak sesuai rencana itu sangat menyebalkan. Pun kalau anak sulit diajak kerjasama, bawel dan membangkangnya jadi satu.
Wow, saat saya mempraktikkan ke diri sendiri itu rasanya lega. Oh ya, ini lo yang saya rasakan. Ini lo perasaan yang sebelumnya tak saya akui. Saya kadang merasa kuat, padahal sejatinya rapuh. Di saat saya berpura-pura kuat, justru itu sangat melelahkan. Memberi jeda pada diri sendiri memang dibutuhkan. Untuk itulah dibutuhkan konfirmasi, bukan hanya asumsi.
Tahukan perbedaan asumsi dan konfirmasi? Asumsi merupakan dugaan atau anggapan yang diterima dari indra yang kita tangkap. Sedangkan konfirmasi proses untuk menegaskan, membenarkan, atau mengesahkan suatu hal. Asumsi lebih kepada hasil pikiran, sedangkan konfirmasi dari komunikasi yang dilakukan antar anggota keluarga ataukah dengan diri sendiri.
Asumsi yang salah atau berlebih seringkali menjadi pemicu konfilk dalam keluarga. Bila terjadi pada diri sendiri dapat memunculkan rasa rendah diri. Inilah yang ingin saya hindari sekaligus saya perbaiki ke depannya. Dihindari agar tidak memunculkan permasalahan baru. Diperbaiki kalau kebiasaan ini seringkali dilakukan dan secara tak langsung diterapkan dalam keluarga.
Tips Memulai Refleksi dalam Keluarga
Setelah mengikuti AHT selama dua hari, ada beberapa langkah yang saya gunakan saat berdiskusi dengan suami dan anak tentang masalah keluarga:
- Memilih waktu santai untuk memulai pembicaraan, tak perlu terprogram atau terususun kaku. Obrolan ringan pun bisa menjadi pembuka untuk memulai diskusi. Salah satunya dengan membuat pertanyaan sederhana dalam kertas kemudian dibuat semacam game.
- Ada perjanjian waktu. Hal ini membantu dalam memfokuskan poin-poin yang ingin dibahas.
- Sebelum melakukan diskusi, saya dengan suami mencoba mengidentifikasi masalah. Memilih satu masalah yang paling penting dan mendesak yang akan dibahas bersama-sama.
- Merumuskan ide penyelesaian serta mengikutsertakan anak dalam mencari solusi.
- Dokumentasi! Ini seringkali terlupa. Mencatat apa saja masalah yang disampaikan setiap anggota keluarga ternyata membantu untuk recall hasil diskusi yang harus disepakati dan diterapkan.
- Menggali ide untuk menyelesaikan masalah yang muncul dan menghargai setiap pendapat yang disampaikan anggota keluarga.
- Pilih solusi untuk dilakukan secara bersama-sama dan berusaha untuk berkomitmen pada keputusan yang diambil.
Wah, sudah panjang kali lebar penjelasannya. Sudahkah Sobat praktik jalur konfirmasi dalam keluarga?
