Buncek: Aliran Rasa Minggu 1-5 di Tahap Telur

Aliran Rasa Minggu 1-5

Bunda Cekatan (Buncek) dari Ibu Profesional (IP) memiliki versi unik. Perjalanan selama kurang lebih 7 bulan diibaratkan sebagai petualangan di Hutan Kupu-Kupu yang dijaga oleh para peri. Mahasiswa yang ikut didalamnya disebut sebagai penjelajah. Aku sebagai salah satu diantaranya tergabung dalam regu 9-Pualam.

Layaknya metamorfosis kupu-kupu ada tahap yang harus kulewati, telur-ulat-kepompong-kupu-kupu. Di tahap telur inilah yang sekarang kujalani. Ternyata lima minggu itu butuh perjuangan untuk bisa melewatinya.

Di minggu awal, saat proses memilih daun. Aku sudah percaya diri membawa bekal, tujuan yang jelas dan juga persiapan mental. Kok bisa PD banget, iyalah. Dari awal dikenalkannya Buncek di HIMA regional dan dari diskusi dengan anggota yang sudah pernah lulus, aku sudah merancang diri mau melakukan apa dan seperti apa nantinya.

Jadilah ketika memilih daun aku bisa lancar melakukannya. Sebagai seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) aku bisa menjabarkan kegiatan harianku yang nyatanya tidak hanya itu-itu saja lo! Ada banyak kegiatan menarik yang kulakukan. Kebetulan saat itu keluarga lagi liburan, suasana damai dan tenang. Pun suami mendukung. Semangat 45 dong waktu mengerjalan.

Nah, minggu kedua saat pemilihan telur hijau berlandaskan dari apa yang bisa membuatku bahagia, mulai deh pergolakan dimulai. Dari lima pilihan (olahraga, menulis, membaca, berbelanja, dan beberes rumah), aku fokus pada menulis.  Kebetulan saat telur hijau muncul, hampir dua tahunan aku vakum dari kegiatan yang biasa kulakukan, termasuk menulis buku/ blog.

Bagaimana pun menjadi penulis adalah cita-cita sebelum menikah. Dengan menulis aku menjadi lebih merasa percaya diri. Dari menulis juga aku merasa otak ini bisa lebih berkembang. Tidak stagnant dan terhindar dari rasa jemu. Karena itulah aku semakin tertantang untuk memasukkan menulis menjadi salah satu telur hijauku.

Pergolakan semakin kuat saat beranjak ke bagian pemilihan telur merah di minggu ketiga. Di mana aku harus memilih kemampuan yang ingin kuasah. Benarkah pilihanku ini? Sudah kah sesuai dengan keadaan atau hanya karena egoku sendiri?

Aku butuh waktu untuk merenung! Membandingkan realita dengan keinginan. Menimbang kemampuan, daya, finansial dan juga support keluarga. Akhirnya pilihan pun semakin mantap. Tetap menulis.

Menulis apa? Sebagai penulis yang ingin dianggap eksis tentu aku berupaya bisa menulis di manapun. Di antaranya: blog dan buku. Pilih yang mana? Keduanya sama-sama membutuhkan perhatian.

Menulis di blog membuatku harus lebih sering berselancar di dunia maya. Belum lagi kalau mencari tema ataupun bahan. Butuh menyita banyak waktu dan harus selalu fokus. Padahal ada bocil dan bayi yang seringkali berebut perhatian.

Berbeda kalau menulis buku dengan topik tertentu. Walau berpetualang mencari sumber ilmu tetap dilakukan, bahasannya sudah mengerucut dan tidak melebar. Satu dengan yang lain saling berkaitan.

Yah, dari hasil pertimbangan ini akhirnya aku memutuskan untuk lebih mendalami keinginanku menulis buku dengan tema Tenang Membersamai Tumbuh Kembang Anak ADHD di minggu ke empat. Di mana saat ini aku sudah berada setahap lebih matang di telur jingga.

Bagaimana dengan blogku? Tetap berjalan, tetapi pengerjaannya lebih santai. Tema yang diangkat pun ringan. Sekiranya tidak memberatkan dan dapat menjadi penyalur emosi dan bakat secara rutin.

Kenapa tema itu yang dipilih? Ini dari hasil pengalaman keluarga kami dalam membersamai si sulung hingga sekarang. Bagaimanapun memiliki anak spesial itu butuh ekstra sabar. Sabar dalam berjuang, sabar dalam mencari dukungan, finansial, dan sabar dalam artian melapangan dada dan menerima segala ketentuan yang datang dari Allah. Pun sabar juga berkomuniaksi dengan pasangan. Jadi, sayang banget kalau perjalanan panjang itu terlewat begitu saja.

Masih on? Sudah mulai limbung nih. NHW rasanya semakin menantang. Ada rasa penasaran, tetapi ada rasa takut juga. Aku bisa mengerjakan sebelum DL ndak ya?

Memasuki minggu ke lima satu per satu anggota keluarga tumbang. Mulai dari si sulung, bayi kemudian suami. Rumah menjadi lebih ruwet. Permintaan untuk dilayani, tangis, rintihan, keluhan hingga rengekkan pun masih terasa bersemayam di dinding rumah. Fokus pun ambyar.

Padahal di saat ini, aku harus memikirkan kaki ilmu yang ingin kuperdalam di Buncek. Alhamdulillah adik ipar membantu, suami pun walau sakit bisa mengetahui kerepotan dan tanggungjawabku di Buncek. Walau sempat terseok dan ketinggalan live diskusi, aku mulai bisa mengerjakan dan melakukan tracking ilmu yang kubutuhkan. Di antaranya: Self love, komunikasi efektif dan pertumbuhan dan perkembangan khusunya anak ADHD.

Penyemangatku

Dari proses telur yang aku alami, ada banyak hal yang terjadi. Perasaan pun silih berganti. Hal ini pula yang mempengaruhi semangatku tatkala mengerjakan NHW (Nice Home Work). Di keluarga, sebelumnya aku sudah mengkomuniaksikan perihal Buncek ini. Suami pun menjadi penyemangat pertama saat aku butuh teman diskusi. Dari suami pula aku bisa lebih mudah menghandle anak-anak dan rumah.

Di regu, alhamdulillah terjadi diskusi aktif. Walau tertinggal live, seringkali aku terbantu memahami materi dan makna NHW dari mereka. Pun posisi sebagai karegu juga membantu banget untuk mendorong diriku hingga titik optimal. Bukan minimal lagi. Setidaknya, kalau aku ketinggalan aku masih harus tetap mencari tahu apa sih yang dibicarakan di setiap minggunya.

Pertanyaan dari regu layaknya todongan pisau yang membuat mata selalu terjaga. Oh ya, ada yang tidak paham lo. Oh ya, yang ini butuh bimbingan dan panduan mengerjakan yang benar. Oh, yang ini ada yang masih kurang tepat membuat peta belajarnya. Kalau aku tidak mencoba memahami dan mencari tahu lebih dulu, bagaimana aku bisa menjawab pertanyaan dan keluh kesah anggota regu!

Kan ada grup karegu! Yups itu ibarat sebagai asupan vitamin dan suplemen tubuh. Aku bukan orang yang sangat aktif di grup, aku lebih menyukai menjadi pengamat. Jika ada kesulitan di regu lain aku belajar memaknainya. Di reguku begitu jugakah? Oh, ada solusinya ndak ya?

Dari para peri dan karegu lain, aku juga meniru semangat, rasa ingin tahu, berani mengemukakan pendapat dan juga mulai aktif dalam sebuah diskusi. Semua pembelajaran ini memang baru apalagi dengan Mayar yang notabene memang asing. Beruntung, semuanya easy going. Saling menyemangati dan memberikan umpan balik positif.

Terakhir, sebagai karegu dan anggota regu-9 Pualam ada rasa sedih dan menyesal saat ada yang gugur atau mengundurkan diri. Kalau saja aku tidak di posisi sekarang, kalau saja aku tidak didukung oleh mereka yang perhatian padaku, nasibku mungkin akan mengikuti jejak mereka yang berguguran di tengah jalan.

Aku tidaklah kuat. Aku hanyalah penjelajah yang ingin terus berjuang. Aku selalu berupaya bersyukur. Tumbuh dan berproses di tahap ulat ini menjadi pengalaman indah nan bermakna di rutinitasku yang seringkali kuanggap biasa saja.

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *